Rabu, 13 Maret 2013

La Tahzan, Jangan Bersedih Yaaa....

  Dalam hidup pasti ada cerita duka dan bahagia. Siapa pun gak ada yang bisa menolak takdir dari Allah SWT. Sebagai muslim kita diwajibkan untuk selalu bersyukur atas segala apapun kejadian yang menimpa. Walau terkadang susah tapi 'terpampang nyata' dampak syukur itu. Gak percaya ? Coba deh tarik nafas dalam2, bayangkan semua nikmat yang telah kita terima dari sejak lahir sampai sekarang, hmmm...dijamin hati terasa 'plong' or lapang. Yaaah...meski gak serta merta permasalahan pun bisa ikut lega. Tapi minimal sudah ada 'modal' untuk bertahan dan menghimpun kekuatan dalam meneruskan perjalanan hidup cieee...lebayyy...
  Hmmm...sebagai manusia biasa, sudah pasti ada yang suka dan ada yang tak suka sama kita. Karena, manusia adalah 'gudangnya' khilaf dan dosa. Gak usah jauh2 deh, seringkali kita berselisih paham dengan keluarga sendiri. Padahal leluhurnya sudah sama, didikan apalagi, toh masih ada saja gesekan2 kecil. Apalagi sama orang2 yang bener2 jauuuh...alias sama teman, rekan atau kenalan. So pasti tambah beda bukan ? 
  Naaah...kali ini saya hanya ingin sharing or tepatnya menguatkan diri sendiri hehe...Jangan takut, sedih or gimana2 deh kalau kita dibenci or dianggap orang sebelah mata. Selama kita tidak melakukan hal2 yang merugikan dan membahayakan orang lain, nyantai ajeee...Nabi Muhammad SAW yang begitu sempurnanya manusia, pun masih mendapat cercaan dan hinaan dari segolongan orang2, apalagi kita yang hanya hamba sahayaNya. Hmmm...hal itulah yang menjadi kekuatan saya dalam menerima sikap dan tindakan negatif dari orang2 sekitar saya. Alhamdulillah Allah SWT menganugerahi saya sekelompok 'manusia2 manis' disekitar saya. Mereka adalah keluarga besarku tercinta. Mereka pun menambah modal pertahanan hidup yang selalu siap menerima saya apa adanya.
   Oh ya, ada satu lagi, jangan lupa berdo'a karena itu adalah kekuatan yang mumpuni. Tapiiii...jangan coba2 mendo'akan yang jelek2 buat mereka yang membencimu yaaaa...Sama aja bo'ong namanya. Anjuran Nabi Muhammad SAW adalah mohonkan ampun bagi mereka dan mudah2an mereka diberi petunjuk. Subhanallah.... 
     Yo wis, yo sodara2, ojo sedih2 rek...la tahzan ya....Allah bersama kita kok ;)  

Kamis, 09 Agustus 2012

Puasa Yuuuk...


Alhamdulillah, kita masih diberi kesempatan menjumpai Ramadan tahun ini. Momen-momen yang sangat berharga dan begitu ‘menjanjikan’. Bukan hanya keberkahan di dunia bahkan di akhirat nanti, insya Allah akan kita raih. Anak2 telah saya kenalkan dengan puasa sejak dini. Dea si sulung memulai puasa penuh pertamanya pada waktu duduk di kelas 2 sekolah dasar. Begitupun adiknya, Ifan. Sepertinya saya agak ‘kejam’ dalam mengajarkan mereka berpuasa. Pada hari2 pertama, mereka ‘latihan’ puasa sampe lemes hehe...tapi dengan tegas saya tetap meminta mereka untuk bertahan. “Kalian harus bersyukur, walaupun berpuasa seharian tapi insya Allah saat berbuka nanti sudah ada makanan2 kesukaan menunggu kalian. Tapi lihat orang2 gak punya, mereka terbiasa menahan lapar bahkan untuk makan seharipun mereka harus berjuang keras terlebih dahulu.” Kalimat sakti itu yang terus saya gaungi ke telinga mereka agar bisa dipahami dan dihayati sebenar2nya. 
Pada suatu hari Mama menelpon dan meminta saya agar Ifan dibolehkan berbuka pada jam 12 siang. Pada hari itu Ifan berada di rumah Mama, sehabis pulang dari pesantren kilat di sekolahnya. Saya memohon Mama agar tidak ‘terbujuk’ dan ‘lemah’ karena rengekan Ifan. Tanpa menyerah Mama menjelaskan bahwa Ifan masih kecil, argumentasi Mama pun saya sambut dengan topik yang sama, justru karena dia masih kecil, kita harus melatihnya, begitu jawaban saya tanpa belas kasihan. Begitulah hari2 selama Ramadan. Tapi, sekejam2 harimau pasti gak pernah bakal makan anaknya sendiri. Demikian pula saya. Ooohh ?? Apakah saya termasuk anggota Trio Macan atau Tiga Macan ?? Hehehe...tentu tidak !! Maksudnya terkadang kalau melihat Dea begitu lemas atau kambuh maagnya ataupun Ifan sudah begitu lemas, mereka pun saya ijinkan untuk berbuka sebelum waktunya.
Alhamdulillah, sekarang anak2 sudah terlatih dan terbiasa berpuasa. Walau masih ada ‘rayuan gombal’ atau ‘jeritan hati si perut’ dari mereka, Ifan lebih kuat dari tahun kemarin. Bahagianya. Mereka pun semangat pergi tarawih ke mesjid walau belum bisa shalat dengan rapi atau masih suka main2. Yang terpenting, mereka harus menyadari bahwa bulan Ramadan adalah bulan spesial dan tidak boleh dilewatkan begitu saja tanpa amalan2 yang baik. Bahkan masih membekas dalam ingatan masa kecil di bulan puasa, begitu syahdu dan indah untuk dikenang. Kebersamaan, kemesraan antara anggota keluarga, dan hal2 lain yang tidak bisa diungkapkan kata2 deh. Apalagi saat hari raya menjelang. Hmmmm....sudah terbayang angpo2 berseliweran hehehe...